“Rumah Putih” Bangun Ulang Langgam Kolonial di Indonesia [Bahasa Indonesia]

mykymiki.wordpress.comPengaruh perkembangan arsitektur kolonial terjadi jauh sebelum kemerdekaan Negara Indonesia. Pada jaman dahulu, bahkan jauh sebelum  era Christoper Columbus menemukan benua Amerika di 1600 an, para bangsa kolonis Eropa meninggalkan negara asal mereka dan menetap dengan membangun tempat tinggal di daerah yang di singgahi.

Kolonialisme Eropa di Amerika

Meskipun gaya yang sering kita lihat pada rumah-rumah Eropa adalah  adalah rumah-rumah kolonial belanda, pada dasarnya gaya arsitektur Eropa dimulai dari Amerika. Saya menyimpulkan dari sumber : The Architecture of New England and the Southern Colonies as it Reflects the Changes in Colonial Life yang ditulis oleh Valerie Ann Polino, Amerika adalah negara para imigran. Bangsa Eropa yang mendiami Amerika pertama kali, kebanyakan masih membawa identitas serta perilaku dari daerah asal mereka. Sehingga, hunian yang mereka bangun pun kebanyakan menggunakan gaya arsitektur negara asal-nya.

Adaptasi arsitektur Eropa terhadap lingkungan era 1600-an

Ketika para kolonis kesulitan menemukan material bahan bangunan untuk rumah, mereka mulai beradaptasi dengan kondisi alam di Amerika. Gaya Arsitektur Eropa tetap dipertahankan, dan selebihnya hunian menyesuaikan dengan kondisi iklim di Amerika yang berangin.

Arsitektur Kolonial di Indonesia (Oleh-oleh Penjajahan Belanda)

Desain arsitektur Eropa yang banyak ditemui di Indonesia adalah model-model arsitektur kolonial Belanda. Desain ini sedikit banyak memilki perbedaan dan ciri khusus, terutama pada atapnya. Atap kolonial Belanda memiliki kemiringan yang tidak terlalu menjorok, dengan puncak yang sedikit melengkung.

Bangunan bergaya Eropa saat ini, mendapat pengaruh kuat dari arsitektur kolonial di jaman dulu dengan beberapa sentuhan baru pada atapnya. Pada Negara Indonesia yang ber-iklim tropis, perapian tidak terlalu dibutuhkan. Keberadaan cerobong asap pun dihilangkan karena dianggap tidak penting.

Bangun ulang langgam kolonial di Indonesia

Ada kesulitan tersendiri membuat planning tapak di ukuran lahan yang memanjang (tidak lebar) untuk sebuah konsep kolonial.

Dimana, ciri-ciri langgam kolonial adalah:

1. Struktur Simetris

2. Tampilan Eksterior cenderung simpel berwarna putih

3. Atap bertingkat, meruncing & tidak datar.

4. Pintu masuk eye-catching & ada ornamen hingga teras terkesan tertutup

5. Jendela balance & dekoratif

Banyak sekali langgam arsitektur kolonial yang tersebar di seluruh dunia. Ketika kebanyakan langgam kolonial di Indonesia adalah Belanda, kali ini saya berkesempatan untuk menghadirkan gaya baru pada rumah tinggal di sebuah lahan berukuran 7 x 14, yaitu berupa pengkinian arsitektur rumah tradisional california bergaya kolonial.

Mengkinikan rumah kolonial tradisional California 

Rumah tradisional California juga banyak mendapat pengaruh dari kolonial Eropa. Berikut ini adalah beberapa contoh rumah tradisional California. Karakter arsitekturnya ber-fasad simpel, struktur simetris, atap tidak datar, jendela berupa panel yang balance, banyak menampilkan bentuk-bentuk geometrikal seperti kotak, segitiga, segi lima, & trapesium.

Related image

Image result for traditional california home

 

Umumnya, rumah tradisional california adalah 2 lantai. Memiliki halaman dengan penataan perkerasan serta pedestrian yang rapi dan dekoratif menuju ke pintu masuk rumah. Teras cenderung tertutup oleh beberapa kolom maupun ornamen yang bergaris-garis rapi dan elegan.

 

1

Untuk mengkinikan/me-modern-kan langgam kolonial yang mengadaptasi style tradisional rumah California, saya melakukan hal-hal berikut :

  • Penyesuaian konsep kolonial yang tadinya simetris. Sesuai paradigma Louis Sullivan yang dicetuskan pada tahun 1896, berupa form follow function dalam essaynya yang berjudul “The Tall Office Building Artistically Considered”Sullivan mengatakan bahwa bentuk adalah akibat dari perwadahan fungsi. Yang dibutuhkan dalam rumah tinggal pada era modern di lahan tak lebar adalah penyesuaian fungsi ruang terhadap bentuk lahan. Ketika susunan ruang pada lahan sudah ter-organisir, bentuk bangunan pun akan mengikuti fungsi dari ruang tersebut.
  • Mengikuti gaya kolonial dengan eksterior fasad dominan berwarna putih. Saya menyesuaikan material yang tadinya banyak berupa papan, menjadi dinding seutuhnya dengan sentuhan akhir berupa ornamen garis yang juga berwarna putih. Saya juga menggabungkan material bata putih ekspos yang di furnished tanpa di lapisi semen pada tampilan fasad nya.
  • Menggunakan atap miring bertingkat yang dipadukan dengan atap datar. Iklim tropis mengharuskan atap yang digunakan oleh bangunan-bangunan di Indonesia harus memiliki kemiringan. Fungsinya untuk mengalirkan air hujan agar tidak menggenang. Saya juga meng-kombinasikan atap segitiga tersebut dengan beton datar. Fungsinya, selain sebagai talang air & akses terhadap sustainability bangunan juga untuk pertimbangan estetika atap kolonial yang bertingkat.
  • Memberi ornamen tambahan yang menonjolkan gaya kolonial. Pada rancangan Rumah Putih’, saya memberikan ornamen lengkung pada list plafon sebagai hiasan. Saya tambahkan juga ornamen garis-garis seperti pagar kecil di paling depan site. Rumah modern ini dibuat tidak memiliki halaman, namun ornamen pagar  bergaris yang menjadi pembatas tempat tanaman selebar 50cm ini akan menambah kesan jenjang pada rumah, sekaligus menandai teritorial akhir dan batas lahan pada rumah tinggal.
  • Mengadopsi gaya jendela pada langgam kolonial. Tidak ada satupun jendela yang wujudkan pada fasad berupa ornamental. Karena bentuk rumah mengikuti fungsi dari ruang, tentunya sulit membuat jendela panel kaca yang seimbang antara bagian kanan dan kiri rumah. Jadi, jendela panel tetap dimunculkan dengan mengikuti kebutuhan akan sirkulasi dari fungsi rumah tinggal. Selebihnya, finishing cat kusen menggunakan warna putih. Daun jendela tetap berupa kaca.

 

Roof
Design & render by : miky

 

11 thoughts on ““Rumah Putih” Bangun Ulang Langgam Kolonial di Indonesia [Bahasa Indonesia]”

  1. Since Airsoft guns are built to look realistic, carrying built to be visible to others can be a bad idea (and illegal).
    In many cases (especially instrumentals), it’s unaffected by language differences as
    well. It was an action which was primarily done by Inuit women nevertheless,
    there are actually some men performing it as well.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.